Tampilkan postingan dengan label Waspada dan Pencegahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Waspada dan Pencegahan. Tampilkan semua postingan
Menyidik Pup Bayi

Tahukah Anda, ketidaknormalan kotoran bayi menunjukkan adanya ketidakberesan pencernaannya?

Sekitar 24 jam setelah lahir, si kecil akan pup atau buang air besar . Warnanya hitam kehijau-hijauan. Ini adalah mekonium atau kotoran pertamanya.

Sesungguhnya, mekonium itu adalah cairan ketuban yang tertelan bayi saat masih dalam kandungan. Kotoran tersebut berada di ususnya sejak 3 bulan sebelum ia dilahirkan. Setelah pup pertamanya itu, selanjutnya kotoran si kecil akan berubah-ubah. Wah, repot dong kita menyidik maknanya. Tidak juga!

Beda minum, beda warna kotoran

Sebenarnya, mekonium akan makin cepat terdesak keluar dari perut bayi jika ia disusui. Ini karena ASI yang pertama kali keluar selepas melahirkan, merangsang beroperasinya sistem pencernaan. Setelah itu, kotoran si kecil akan berubah secara bertahap.

* Beberapa hari setelah lahir , kotorannya berwarna hijau atau kuning. Ini adalah transisi antara mekonium dan kotoran hasil mengonsumsi ASI.

* Minum ASI atau susu botol?

* Begitu si kecil minum ASI secara teratur, kotorannya akan berwarna kuning cerah, baunya agak sedikit asam, dan bentuknya mirip butiran beras. Wajar bila dalam minggu-minggu pertama, bayi sering pup, terutama setelah kenyang menyusu. ASI memang lebih mudah dicerna, sehingga gampang dikeluarkan. Sebagai catatan, bayi yang diberi ASI akan buang air besar minimal 10 kali dalam sehari. Jadi, jangan keliru menganggap ini sebagai diare.

* Kotoran bayi yang minum susu formula akan berwarna kuning pucat atau kuning kecokelatan. Baunya lebih tajam. Bentuknya juga lebih padat dibandingkan bayi yang diberi ASI. Maklumlah, namanya juga susu sapi, jadi tidak gampang dicerna seperti halnya ASI.

* Setelah mengonsumsi makanan padat , warna kotoran si kecil akan beda lagi. Biasanya sih , kotorannya berwarna cokelat.

Waspada bila tidak normal

Sekarang, bagaimana kalau kotoran si kecil tidak berwarna dan bentuknya pun tidak seperti biasanya? Oh, ini biasanya terjadi bila ia dalam kondisi sebagai berikut.

* Diare

Kotorannya lebih hijau dan cair.

* Risiko bayi yang diberi ASI terkena diare lebih rendah daripada yang tidak. Ini karena ASI membantu mencegah pertumbuhan mikroorganisme. Kalaupun diare, bisa jadi karena ASI dimasukkan ke dalam botol yang kurang steril.

* Bayi yang diberi susu formula memang cenderung gampang diare. Selain akibat kurang sterilnya peralatan minum, bisa jadi karena ia memang sensitif atau alergi terhadap kandungan susu sapi.

* Sembelit

Kotorannya agak hitam, keras, dan bentuknya bulat-bulat seperti kotoran kambing.

* Sering terjadi pada bayi yang diberi susu formula. Mungkin saja, ini akibat ia alergi terhadap kandungan susu sapi.

* Bayi yang sudah mengonsumsi makanan padat, kotorannya bisa berwarna hitam. Warna ini disebabkan oleh zat besi, yang berfungsi sebagai vitamin atau suplemen yang ditambahkan pada makanannya.

* Adanya retakan/celah di dubur

Kotoran berwarna merah “bergaris-garis”.

* Warna merah terjadi karena kotoran bercampur darah yang keluar dari retakan di lingkaran anus.

* Penyebab retakan karena si kecil mengejan sekuat tenaga saat sembelit.

* Akibat virus atau gigi tumbuh

Kotoran agak hijau dan berlendir.

* Terjadi karena gangguan penyerapan makanan di usus.

* Bisa juga karena gigi si kecil sedang tumbuh. Ludah banyak tertelan sehingga usus mengalami gangguan. Kalau sudah begini, penyerapan makanan akan ikut-ikutan terpengaruh.

Laila Andaryani Hadis ( ayahbunda)

Sendawa, “Anti” Perut Kembung



Bersendawa setelah minum susu penting bagi bayi, sebab akan menghindarkannya dari perut kembung.

Ketika bayi Anda menyusu, seringkali udara ikut-ikutan masuk bersama susu. Biasanya, volume udara yang tertelan oleh bayi yang minum ASI lebih sedikit ketimbang bayi yang minum susu botol. Nah, volume udara yang masuk ini akan lebih banyak lagi jika cara menyusunya kurang tepat, si kecil tidak tenang, atau baru saja menangis berkepanjangan akibat marah atau kelaparan. Kok, bisa? Ketika susu masuk ke dalam lambung bayi, udara yang masuk ‘tertahan’ di bagian atas lambung. Akibatnya, perutnya kembung. Bayi pun jadi rewel.

Untuk menghindari perut bayi kembung, segera sendawakan setelah ia menyusu pada masing-masing payudara. Sebenarnya, ada 3 posisi yang umum digunakan untuk menyendawakan bayi. Tapi, setiap bayi biasanya punya posisi favorit yang ‘menurutnya’ paling nyaman. Jadi, pandai-pandailah ‘membaca’ isi hatinya.

Posisi menghadap ke belakang

- Letakkan handuk kecil atau saputangan pada bahu Anda untuk menahan muntahan susu.
- Gendong bayi menghadap ke belakang dengan bertopang pada bahu Anda.
- Tegakkan tubuhnya dan biarkan kepalanya bersandar di bahu Anda.
- Gunakan satu tangan untuk menahan tengkuk dan bokongnya, sementara tangan lainnya mengelus-elus punggungnya sampai dia bersendawa.

Posisi tengkurap di pangkuan

- Telungkupkan si kecil di atas pangkuan.
- Topanglah dadanya dengan tangan agar kepalanya sedikit lebih tinggi dari tubuhnya.
- Elus-elus punggungnya sampai dia bersendawa.

Posisi digendong di depan

- Gendonglah bayi dengan cara menyangga tengkuk dan bokong di depan tubuh Anda.
- Usahakanlah agar kepalanya sedikit lebih tinggi dari dadanya.
- Letakkan handuk kecil atau saputangan di dadanya untuk menampung muntahan.
- Elus-elus punggungnya sampai dia bersendawa.

Sri Lestariningsih(ayahbunda)

Mengukur Suhu Tubuh Bayi


Kini tersedia aneka jenis termometer di pasaran. Mana yang paling oke?

Suhu tubuh normal manusia adalah 36,5-37,5ºC. Jika naik mencapai 38ºC atau lebih, barulah disebut demam. Dan sebenarnya, demam adalah tanda tubuh sedang terinfeksi bakteri atau virus.

Kenali jenis-jenisnya

Kalau dulu Anda hanya mengenal termometer konvensional yang terbuat dari kaca dan berisi air raksa, maka kini ada beberapa jenis termometer digital di pasaran. Lalu apa kelebihannya?
Yang pasti, termometer digital dijamin akurat, karena memperlihatkan angka sampai bilangan yang terkecil. Juga, termometer jenis ini praktis dan hasil pengukurannya sangat cepat.
Sayangnya, termometer digital sangat rentan terhadap udara lembap dan air. Belum lagi, harganya lebih mahal ketimbang yang konvensional.

Di mana mengukurnya?

Bagian badan si kecil yang bisa jadi tempat meletakkan termometer adalah ketiak, mulut dan anus. Namun, akhir-akhir ini, teknologi termometer kian canggih, sehingga termometer bisa juga ditaruh di telinga dan dahi.

Hanya saja, termometer kaca sama sekali tidak dianjurkan untuk ditaruh dalam mulut bayi. Kenapa? Kalau pecah maka air raksa akan meracuni bayi.

Bagaimana termometer dimasukkan lewat anus? Sebenarnya, tidak jadi soal. Tapi, Andalah yang justru sering tidak tega melakukannya. Anda takut kan kalau-kalau memasukkannya terlalu dalam, sehingga malah mencederai si kecil? Makanya, mengukur suhu tubuh melalui anus sebaiknya dilakukan oleh petugas kesehatan saja.

Ukur secara Berkala

* Jika si kecil demam, pantau kondisinya dengan cara mengukur suhu tubuhnya secara berkala. Kira-kira setiap 4-6 jam.

* Segera bawa ke dokter, bila suhu tubuhnya meningkat hingga lebih dari 40ºC.

* Bila suhu tubuh bayi masih berkisar antara 38-39º C, tunggu sampai ± 3 hari. Jika suhu tubuhnya tidak turun-turun juga, cepat bawa ke dokter.

Ini Penting Juga!

* Agar hasil pengukuran termometer akurat, tunggu sampai bayi Anda pulas dulu. Maklum, si kecil biasanya merasa geli kalau ketiak atau telinganya dimasukkan benda asing!

* Termometer khusus dahi belum banyak dijual di pasaran. Meski begitu, cara pemakaiannya mirip dengan termometer digital khusus telinga. Cuma, setelah menekan tombol pada body termomer, gerakkan termometer dari kiri ke kanan. Begitu pula sebaliknya.

Laila Andaryani Hadis (ayahbunda)

KENALI TANDA TANDA BAYI LELAH

Rewel adalah "gejala" yang paling mudah dikenali. Masih ada 11 "gejala" lainnya yang perlu dipahami agar Anda tepat menanganinya.

Apa yang terjadi jika kita lelah? Punggung diregangkan, menjadi lebih sensitif, kehilangan fokus perhatian, dan sebagainya. Ternyata tanda-tanda lelah yang muncul pada orang dewasa hampir sama dengan apa yang dialami oleh bayi. Ia akan melakukan hal-hal yang mirip dilakukan oleh orang dewasa.

Lelah pada bayi umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kualitas tidur yang kurang. Mungkin saja saat tidur ia merasa kurang nyaman karena ruangan terlalu panas atau dingin, popok basah yang telat diganti, lapar atau yang lainnya. Kondisi ini membuat bayi tidak lelap tidur sehingga berikutnya ia cepat letih.

Bisa juga bayi terlalu lama bermain. Apalagi bayi yang sudah bisa tengkurap, merangkak, atau berjalan mengeksplorasi lingkungannya. Hal ini kerap membuatnya lupa beristirahat sehingga ia pun kelelahan.

Agar bayi dapat tumbuh dengan baik dan bisa menikmati aktivitas hariannya, kita perlu mencermati waktu bermain dan beristirahatnya sehingga tepat perimbangannya. Dengan takaran porsi bermain dan beristirahat yang pas, maka fisik, psikis, maupun kecerdasannya akan tumbuh dan berkembang sempurna. Intinya, begitu bayi mulai kelihatan lelah, sudah waktunya dia segera beristirahat.

12 TANDA

Berikut adalah tanda-tanda bayi lelah dan butuh istirahat seperti yang tertulis dalam buku Tanya Jawab Seputar Kehamilan, karya Tris Booth, MA, LCCE, FACCE., terbitan Buana Ilmu Populer (2007).

1. Melihat ke arah lain

Ada bayi yang menunjukkan kelelahannya dengan melihat ke arah lain saat ditegur atau diajak bermain. Misal, bayi sedang tidur di atas boksnya kemudian kita datang dan berusaha mengajaknya bermain. Bukannya antusias, si kecil malah melihat ke arah lain.

2. Memalingkan wajah

Bayi juga menunjukkan kelelahannya dengan memalingkan wajahnya atau melengos. Saat ditegur, dengan tegas ia memalingkan wajahnya, bukan melihat ke arah lain melainkan tidak ingin menatap kita yang ada di depannya.

3. Meregangkan punggung

Saat lelah, bayi pun ada yang melengkungkan punggungnya ke depan. Ini mirip dengan orang dewasa yang berusaha meregangkan punggungnya saat lelah dan butuh istirahat. Bayi akan melakukannya baik saat tidur, digendong, maupun saat duduk bermain.

4. Rewel

Entah menangis atau mengeluarkan rengekan merupakan tanda yang sangat umum ditunjukkan bayi saat ia merasa tidak nyaman. Kerewelan akibat kelelahan biasanya ditunjukkan dengan tangisan yang tidak terlalu melengking, pelan tapi terus-menerus.

5. Bernapas lebih cepat atau lebih kencang

Pada orang dewasa, lelah dapat membuat napas lebih cepat dan kencang. Hal ini bisa pula terjadi pada bayi. Jika dicermati, napas bayi yang sedang lelah biasanya lebih cepat dan kencang.

6. Menahan napas sebentar

Selain lebih cepat dan kencang, bayi pun sering kali menahan napas. Ditahan sebentar lalu diembuskan lagi. Ia akan melakukannya berkali-kali sampai ia bisa beristirahat dengan nyaman.

7. Menjadi pucat, kemerahan, atau timbul bercak-bercak

Bisa saja saat lelah wajah bayi menjadi pucat. Bahkan pada beberapa bayi, terutama yang menderita alergi, wajahnya akan tampak kemerahan dan timbul bercak-bercak.

8. Tertegun

Tertegun atau "bengong" bisa juga menjadi tanda bahwa bayi lelah. Jika biasanya ia aktif saat bermain kini ia lebih banyak tertegun bahkan tidak antusias jika kita ajak bermain.

9. Bersin atau batuk

Bersin atau batuk menjadi tanda jika daya tahan tubuh sedang menurun. Jika bayi bersin atau batuk bisa saja daya tahan tubuhnya sedang menurun karena lelah. Kondisi lelah menunjukkan bahwa tubuh butuh istirahat supaya daya tahan tubuh kembali prima.

10. Cegukan

Kondisi tubuh bayi yang kurang fit dapat memunculkan gejala cegukan.

11. Main ludah

Mempermainkan ludah sangat mungkin menunjukkan bahwa bayi sedang lelah. Ia merasa tidak nyaman dengan tubuhnya lalu ia mempermainkan ludahnya.

12. Buang air besar

Rasa tidak nyaman saat lelah bisa memengaruhi kondisi pencernaan bayi. Pencernaannya bekerja lebih aktif sehingga bayi pun ingin buang air besar.

Irfan Harsuki. Foto: Iman/nakita

CIPTAKAN TIDUR YANG BERKUALITAS!

Istirahat yang paling baik untuk bayi adalah memberinya waktu tidur yang berkualitas. Dengan begitu tubuh bayi akan segar dan fit kembali. Tapi tidak setiap orangtua tahu bagaimana menciptakan tidur yang berkualitas pada bayi. Berikut tip yang diberikan oleh Mira D. Amir, Psi., dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPT UI), Jakarta.

* Buatkan jadwal tidur

Bayi bisa tidur kapan saja, terutama setelah lelah bermain, menangis, atau kekenyangan. Namun alangkah baiknya jika orangtua sudah membuatkan jadwal tidur pagi, siang, sore atau malam pada bayi. Sebagai panduan, bayi usia 1-5 bulan membutuhkan waktu tidur 17 jam sehari, terdiri atas 8,5 jam tidur malam dan 8,5 jam tidur siang. Selanjutnya, bayi usia 6-12 bulan membutuhkan 13-14 jam sehari, terdiri atas 11 jam tidur malam dan 3 jam tidur siang. Kita bisa mengatur waktu tidurnya dengan berpedoman pada jam tidur di atas.

* Pastikan perutnya kenyang

Perut kosong dapat mengganggu karena umumnya bayi yang lapar akan rewel atau gelisah saat tidur. Jadi, pastikan perut bayi kenyang sebelum tidur. Bayi 6 bulan ke atas sebaiknya diberi makan 2 jam sebelum tidur agar metabolisme dan suhu tubuhnya sudah normal kembali ketika akan tidur.

* Ciptakan suasana nyaman

Ciptakan suasana nyaman dalam kamar bayi, dari kebersihan, suhu kamar yang tidak terlalu panas atau dingin, juga cahaya yang tidak terlalu terang/gelap. Letakkan termometer suhu di sekitar tempat tidur agar kita bisa memantaunya. Gunakan lampu temaram karena sinar temaram terbukti dapat membantu tubuhnya memproduksi zat penenang alami, yaitu melatonin yang bisa membantunya segera tertidur.

* Pakaikan baju tidur yang nyaman

Pilihkan baju tidur yang pas dan nyaman. Jika suhu ruang tidurnya termasuk hangat, pakaikan baju yang tidak membuatnya gerah. Jika suhu udara dingin, pakaikan baju tidur yang cukup hangat. Jika perlu, selimuti dengan selimut tipis untuk lebih menyamankan atau melindunginya dari serangan nyamuk. Pospak pun mungkin perlu dipakaikan jika ketidaknyamanan akibat popok yang basah sampai mengganggu kualitas tidur bayi. Pilihkan pospak yang memiliki daya serap tinggi sehingga tidak mengiritasi kulit.

* Dekorasi kamar yang nyaman

Dekorasi kamar yang menarik akan membuat asosiasi bayi menjadi positif terhadap kamarnya sehingga ia akan senang berada di dalamnya. Dengan begitu tidurnya pun akan lebih nyaman.

* Mandi air hangat

Kalau perlu, bantu bayi yang sulit tidur nyenyak dengan memandikannya pakai air hangat. Ini akan membuat tubuhnya relaks dan lebih cepat tidur. Supaya lebih efektif, setelah mandi susuilah, niscaya ia akan lebih nyaman dan relaks.

* Putarkan lagu/musik

Musik pengantar tidur dapat menciptakan suasan relaks. Putarlah musik tersebut ketika bayi akan tidur. Pilihannya bisa musik klasik yang lembut atau jenis musik lamat-lamat lainnya. Kita juga bisa meninabobokkannya dengan bersenandung atau mendendangkan lagu Nina Bobok sambil mengayun atau membelainya.

* Lakukan pijatan ringan

Pijatan juga menimbulkan efek menenangkan sebagai pengantar tidur. Lakukan pijatan ringan dan lembut dari kaki, tangan, dada, dan perut. Selain pijatan kita juga bisa mengusap-usap punggung, kepala, pipi, atau paha bayi.

Perlindungan Maksimal



Membawa pulang bayi dari rumah bersalin biasanya heboh dengan segala pernik pelindung bayi. Perlukah semua itu?

Semua ibu pasti ingin melindungi bayinya yang nampak ringkih itu. Apalagi untuk perjalanan menuju rumah, perlindungan harus maksimal. Maka sang jabang bayi pun dibalut selimut, sarung tangan, kaus kaki, bahkan topi tebal. Biar hangat dan aman.

Sarung tangan

Sarung tangan bayi biasanya bertujuan melindungi dan menghindarkan kulit muka bayi dari luka goresan kuku panjang jemarinya. Maklumlah, banyak ibu baru yang belum berani menggunting kuku bayinya.

Sebaiknya sarung tangan tidak dipakaikan terlalu lama. Cukup dipakai apabila cuaca atau suhu sedang dingin, atau tangan si kecil terlihat aktif meraba mukanya. Setelah si kecil berumur satu bulan, dia tidak perlu lagi sarung tangan

Pemakaian sarung tangan yang terlalu lama dikhawatirkan malah bisa mengganggu perkembangan sensorik dan motorik telapak tangan dan jemari si kecil. Bila tertutup sarung tangan, bayi tidak dapat merasakan sensasi dari benda yang diraba atau dipegangnya, sebagai proses pengenalan tubuhnya serta lingkungannya. Misalnya, sensasi saat meraba wajahnya sendiri atau wajah ibu dan ayahnya.

Pilihlah kaus tangan yang terbuat dari bahan yang halus, sebab kulit bayi sangat halus dan mudah tergores. Misalnya, terbuat dari katun halus, kaus, atau flannel.

Kaus kaki

Kaus kaki sebaiknya juga dari bahan yang halus dan lembut. Bila musim hujan dan suhu sedang dingin, bisa dipilih yang terbuat dari bahan wool. Tapi, perhatikan jangan sampai ada benang yang terlepas pada bagian dalam kaus kakinya karena jari-jari kaki si kecil dapat terlilit. Perhatikan juga karet di lingkar kakinya, jangan sampai menekan kaki bayi dan mengganggu peredaran darahnya.

Sebagai panduan, pilih kaus kaki yang masih menyisakan ruang kurang lebih 0,5-1,5 cm. Dengan begitu, kaki si kecil bisa leluasa bergerak.

Usahakan selalu menjaga kebersihan kakinya, dan jangan biarkan si kecil pakai kaus kaki selama sehari penuh, sekali pun cuaca dingin. Sebab, bila kakinya kepanasan akan lembap, sehingga mengundang jamur tumbuh. Beri kesempatan kaki bayi terkena udara.

Topi

Si kecil banyak mengeluarkan panas tubuh melalui kepalanya. Karena itu, salah satu cara menjaga agar tubuhnya tetap hangat adalah dengan menutup kepalanya.

Si kecil dapat Anda pakaikan topi bayi, terutama pada saat cuaca atau suhu udara sedang dingin. Atau, pada waktu membawa si kecil keluar ruangan atau rumah, seperti saat ke dokter untuk pemeriksaan rutin.

Pilihlah topi yang terbuat dari bahan yang lembut dan halus, serta memungkinkan terjadi pertukaran udara sehingga panas yang dikeluarkan tubuhnya melalui kepala, tidak ‘terjebak’ dalam topi. Penting diingat, pakaikan topi seperlunya, yakni tidak dalam jangka waktu yang lama.

Sri Lestariningsih

Kurangi Pakai Ponsel demi Kesehatan Bayi!

BU MIL (Ibu Hamil) menggunakan handphone saat hamil? Sebaiknya dihindari demi kesehatan si jabang bayi.

Sebuah studi yang dilakukan terhadap 1300 anak mendapatkan hasil bahwa wanita yang sering menggunakan handphone pada saat hamil akan mengakibatkan si anak memiliki masalah sikap (behavioral).

Studi yang dilakukan Universitas California (UCLA) dan Universitas Aarhus di Denmark menemukan bahwa penggunaan handphone -sekitar tiga kali sehari- dapat meningkatkan risiko bayi menjadi hiperaktif dan mempunyai masalah emosi yang kurang stabil, terutama pada saat mereka mulai memasuki usia sekolah atau Taman Kanak-kanak.

Kesimpulan ini ditemukan secara tidak sengaja dan para penelit belum mengetahui secara pasti apa yang menjadi penyebabnya. Tentu saja, jangan sampai hal ini membuat Anda menjadi paranoid. Namun, tidak ada salahnya mengurangi penggunaan handphone sampai si jabang bayi dilahirkan.
(Mom& Kiddie//tty)

Awas, Bayi Baru Lahir Bisa Terkena Infeksi

INFEKSI pada bayi baru lahir ada dua tipe yaitu early infection (infeksi dini) dan late infection (infeksi terlambat). Disebut infeksi dini karena infeksi didapat dari si ibu saat masih dalam kandungan. Sementara late infection adalah infeksi yang didapat dari lingkungan luar, bisa lewat udara atau tertular oleh orang lain. Beragam infeksi bisa terkena pada bayi baru lahir, seperti, herpes, toksoplasma, Rubella, CMV, hepatitis, eksim, infeksi saluran kemih, infeksi telinga, infeksi kulit, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), dan HIV/AIDS.

Herpes (HSV)

Menurut dr TB Firmansyah B Rifai SpA, Direktur Medik dan Keperawatan, RSAB Harapan Kita, virus herpes terdiri atas dua jenis, yakni herpes simpleks tipe 1 dan herpes simpleks tipe 2. Herpes simpleks tipe 1, umumnya menginfeksi di dalam dan di sekitar mulut. Sedangkan herpes simpleks tipe 2, biasanya pada genital (alat kelamin) sehingga disebut pula herpes genitalis.

"Herpes genitalis pada mulut rahim yang acap kali tanpa gejala klinis bukanlah ancaman ringan, apalagi bagi wanita hamil," jelasnya.

Firmansyah mengatakan, HSV-2 bisa mempengaruhi kondisi kehamilan maupun janin atau bayinya. Bila penularan (transmisi) terjadi pada trimester I kehamilan, hal itu cenderung mengakibatkan abortus. Sedangkan pada trisemester II bisa terjadi kelahiran prematur.

"Jika herpes genitalis mengenai seorang ibu dan pada saat persalinan sedang kambuh, berisiko menular ke bayi yang dilahirkan ketika proses persalinan," tambahnya.

Bayi yang terkena HSV-2 akibatnya pun beragam mulai dari lesi hingga mikrosefali (kepala kecil), atau hidrosefali (busung kepala), radang pada mata, radang otak (ensefalitis), serta erupsi kulit yang menyeluruh.

"Kira-kira satu dari seribu bayi yang lahir dari ibu dengan herpes genitalis berisiko tertular herpes. Jika tidak diobati, 50-80 persen bayi yang lahir dengan herpes bawaan ini akan meninggal.�

Penularan pada bayi sebagian besar (90 persen) terjadi saat proses kelahiran, 5 persen pada janin melalui plasenta atau langsung mengenai fetus (janin). Selebihnya, 5 persen, infeksi HSV-2 diperoleh sehabis masa persalinan," paparnya panjang.

Menurutnya lagi, kontak lama dengan cairan terinfeksi, dapat meningkatkan risiko bayi tertular. Maka, pada wanita hamil yang menderita herpes genitalis primer, dalam enam minggu terakhir masa kehamilannya dianjurkan untuk menjalani bedah cesar sebelum atau dalam empat jam sesudah pecah ketuban.

Kecuali itu, lanjutnya, tindakan bedah cesar akan dilakukan pada wanita dengan perkembangan virus pada saat atau hampir melahirkan. Kendati begitu, bedah cesar memang tidak selalu dilakukan pada wanita pengidap herpes genitalis kambuhan.

Untuk menjamin kepastiannya, perlu dilakukan pemeriksaan virus dan darah mulai usia kehamilan 32-36 minggu. Selanjutnya, setidaknya tiap minggu dilakukan kultur sekret serviks dan genital eksternal. Bila kultur virus yang diinkubasi minimal empat hari memberikan hasil negatif dua kali berturut-turut, serta tidak muncul lesi genital saat melahirkan, persalinan normal bisa dilakukan.

Cara Mengatasinya

Infeksi herpes simpleks pada bayi yang baru lahir memang sangat mengkhawatirkan dan memberikan prediksi akibat yang buruk bila tidak segera diobati. Untungnya, pengobatan selama ini mampu menurunkan angka kematian, demikian juga mencegah progresivitas penyakit berupa infeksi herpes pada susunan saraf pusat atau infeksi diseminata (penyebaran ke bagian tubuh lain).

Tindakan terhadap bayi dari ibu penderita herpes genitalis dilakukan secara beragam, di antaranya ada rumah sakit yang menganjurkan isolasi. Selanjutnya, pada bayi dilakukan pemeriksaan kultur virus, fungsi hati dan cairan serebrospinalis (otak), selain pengawasan ketat selama bulan pertama kehidupannya.

Eksim

Berbeda dengan kulit dewasa yang tebal dan mantap, kulit bayi relatif tipis dengan ikatan antarsel yang longgar. Karena itu kulit bayi lebih rentan terhadap infeksi, iritasi, dan alergi.

"Orangtua perlu memerhatikan perawatan kulit bayi yang berhubungan dengan beberapa penyakit kulit tertentu. Misalnya saja eksim popok, yaitu kelainan kulit yang timbul akibat radang di daerah tertutup popok," jelas dr TB Firmansyah B Rifai SpA, Direktur Medik dan Keperawatan, RSAB Harapan Kita.

Menurutnya, penyakit kulit pada bayi dan balita ini banyak dikeluhkan orangtua. Penyakit ini umumnya timbul pada lipatan-lipatan kulit paha, di antara kedua pantat, dan dapat menimpa di bagian kulit lain. Bagian tertutup popok mudah mengalami peradangan karena kulitnya hangat dan lembap serta peka terhadap bakteri serta senyawa yang dapat mengiritasinya.

"Eksim popok dapat dicegah dengan cara mengganti popok sesering mungkin setiap kali popok basah. Sebaiknya kain popok terbuat dari bahan lembut dan cara pemakaiannya tidak terlalu ketat agar kulit tidak tergesek. Penggunaan celana plastik sedapat mungkin dihindari," sarannya.

Menurutnya, eksim popok juga bisa muncul karena adanya zat-zat tajam, yang biasa ada dalam feses bayi, yang menimbulkan peradangan di sekitar anus. Bercak seperti ini umumnya terjadi bila si bayi diare. Penanggulangannya bisa dilakukan dengan mengganti popok setiap kali terasa basah.

Popok yang basah bisa pula menimbulkan bercak yang tidak berpusat di sekitar anus. Ini terjadi karena reaksi antara zat di dalam ompol dengan zat di faeces dan menghasilkan amonia yang merangsang kulit bayi.

"Penanggulangannya bisa dengan mengganti popok sesering mungkin. Bila dalam 10 hari belum ada kemajuan, atau malah makin memburuk, ada kemungkinan kulitnya sudah terinfeksi candida -jamur yang biasa muncul di usus. Segera periksakan ke dokter," kata dr Firmansyah.

Eksim Susu

Keluhan gangguan kulit lain pada anak yang banyak ditemui adalah dermatitis atopik (eksim susu). Penyakit eksim susu biasanya sangat gatal. Tampak dari seringnya bayi menggaruk, gelisah, serta rewel.

"Kulit terlihat kemerahan dan terdapat gelembung-gelembung kecil berisi cairan jernih. Bila pecah akan tampak basah kemudian mengering dan menjadi koreng kekuningan atau kehitaman," jelas dr TB Firmansyah B Rifai SpA.

Menurutnya, eksim ini terdapat pada kulit daerah tertentu sesuai dengan usia anak. Misalnya pada bayi banyak ditemukan di daerah pipi, sedangkan pada anak di daerah lekukan lengan dan kedua lekukan lutut. Di luar daerah tersebut kulitnya kering dan bersisik.

"Penyebab penyakit ini sangat kompleks, dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik dari dalam tubuh, yaitu faktor keturunan, maupun lingkungan, misalnya debu, udara panas, dan kelembapan. Karena itu perawatan kulit yang paling penting adalah mencegah kulit agar jangan kering," tutupnya.
(Mom& Kiddie//tty)

Anak Sakit Karena Demam atau Flu?

BAYI yang usianya masih di bawah satu tahun rentan sakit. Mereka kerap terkena flu (influenza) dan pilek yang disertai batuk (common cold), apalagi pada permulaan musim hujan seperti sekarang.

Gejala influenza mencakup demam dan otot terasa kaku. Sedangkan gejala common cold antara lain bersin-bersin, hidung tersumbat, dan sakit tenggorokan, tapi jarang disertai demam. Demam tidak selalu pertanda terserang penyakit influenza. Demam juga bisa diakibatkan infeksi lain.

Lantas, bagaimana membedakan demam yang disebabkan oleh infeksi lain dan demam karena flu? Bagaimana cara mengatasinya? Serta apa saja komplikasi yang menyertainya?

Menurut dr Virginia Dwiyandari, SpA, dari RSIA Graha Permata Ibu Depok, ada beberapa gejala yang dapat diwaspadai untuk mengetahui apakah anak Anda demam atau flu.

Mengapa Demam?

Demam merupakan gejala umum suatu penyakit infeksi atau kondisi non-infeksi termasuk kondisi fisiologis tubuh. Demam juga bisa terjadi karena peningkatan suhu tubuh akibat kekurangan cairan tubuh (dehidrasi), peningkatan metabolisme tubuh saat berolahraga misalnya dan sebab-sebab lainnya.

Sedangkan tubuh yang terkena infeksi hampir selalu disertai dengan demam baik yang bersifat lokal (pada bagian tubuh tertentu yang terkena infeksi) ataupun seluruh tubuh.

Infeksi dapat terjadi pada kulit, saluran napas, saluran kencing, dan sistem tubuh lainnya. Salah satunya, infeksi akut pada saluran napas biasanya disertai demam, juga gejala di saluran napas seperti batuk, pilek, dan gejala tubuh lainnya.

Gejala Flu dan Batuk Pilek

Gejala flu umumnya diawali dengan gejala lokal pernapasan (pada hidung) dan gejala sistemik. Gejala lokal pernapasan berupa batuk disertai keluarnya dahak, sesak napas, serta tenggorokan terasa kering dan sakit. Sedangkan, gejala sistemik berupa demam tinggi, pada anak-anak sering disertai menggigil, nyeri kepala, badan terasa lemas, kadang disertai nyeri otot.

Sedangkan, gejala batuk pilek (common cold) sangat bervariasi, yang menyerang saluran napas atas (lokal) dan secara sistemik. Gejala lokal berupa hidung terasa panas dan gatal, bersin-bersin, hidung tersumbat, ingus yang sering keluar tampak encer dan bening, mata berair, tenggorokan terasa sakit, dan kering.

Sementara gejala sistemik ringan seperti demam ringan, lemas ringan, sakit kepala ringan, dan pegal-pegal. Gejala sistemik umumnya terjadi bila penyebabnya adalah infeksi yang lebih mudah terjadi bila daya tahan tubuh menurun, atau pada saat tubuh mengalami kelelahan, kedinginan, adanya penyakit menahun, serta pada balita yang daya tahan tubuhnya relatif masih rendah.

Sementara batuk yang menyertai pilek biasanya batuk berdahak karena turunnya lendir ke saluran napas yang merangsang refleks batuk. Batuk pada infeksi dapat batuk berdahak atau kering tergantung kuman penyebabnya. Sedangkan batuk pada alergi dapat berupa batuk tidak berdahak hingga batuk berdahak. Batuk karena infeksi biasanya disertai gejala seperti demam, penurunan nafsu makan, diare, dan sebagainya.

Batuk dapat menyerang setiap saat. Bila disebabkan alergi, batuk bersifat episodik tergantung faktor pencetus seperti makanan tertentu, udara dingin, atau riwayat alergi yang mendukung keadaan ini. Jika tidak disertai infeksi, tidak timbul gejala demam.

Faktor penyebab

Penyakit batuk pilek (common cold) maupun flu (influenza) disebabkan oleh virus, bakteri, atau jamur. Bisa juga disebabkan oleh faktor pencetus (alergen) seperti debu, udara dingin, bulu binatang, tungau debu rumah, asap rokok atau kendaraan bermotor, AC, kipas angin, serta adanya benda asing atau lesi di saluran napas.

Sedangkan penyebab batuk secara umum adalah infeksi, alergi atau peradangan, aspirasi atau lesi di saluran napas, asap atau gas, penyakit paru primer, atau penyebab di luar paru seperti refluks gastro-esofagus, penyakit jantung bawaan atau psikologis.

Komplikasi pada batuk pilek dan flu

Bila tidak segera ditangani, penyakit flu maupun batuk pilek pada anak dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Seperti infeksi telinga tengah, sinus, ensefalitis (radang otak), bronkiolitis (radang paru-paru), hingga pneumonia.

Infeksi telinga tengah dan sinus terjadi jika ingus tidak bisa keluar. Akibatnya, cairan akan mengumpul di bagian belakang hidung dan tenggorokan bagian atas. Ingus yang bercampur dengan bakteri patogen sampai terjadi komplikasi, mengakibatkan gangguan pada liang telinga tengah dan infeksi. Karenanya, setiap terjadi flu atau pilek, sebisa mungkin ingus dikeluarkan dari dalam hidung anak-anak.

Perlunya imunisasi influenza

Imunisasi influenza dapat mencegah infeksi yang disebabkan oleh virus influenza saja, tidak terhadap infeksi primer virus lain atau bakteri patogen dalam saluran napas. Titer antibodi pascavaksinasi influenza menurun setelah satu tahun sehingga diperlukan vaksinasi ulang setiap tahunnya.

Pada anak usia di atas delapan tahun yang mendapat vaksinasi influenza perlu mendapat dosis kedua dengan interval minimal empat minggu. Akan tetapi, imunisasi influenza dapat diberikan sejak usia 6 bulan.

Imunisasi ini tidak wajib, tetapi dianjurkan utamanya pada individu yang rentan terhadap penyakit tertentu seperti anak dengan penyakit jantung bawaan, anak yang mendapat penekan imun, dan penyakit menahun lainnya. Bila tidak diberikan akan berisiko terkena infeksi influenza.

Perlu diingat, meski sudah mendapat imunisasi influenza masih ada kemungkinan terinfeksi karena imunisasi pada individu dengan kekebalan tubuh rendah akan menghasilkan titer antibodi rendah setelah vaksinasi. Dengan kata lain, pemberian vaksin ini mungkin lebih efektif untuk mencegah komplikasi termasuk infeksi pada saluran napas bawah, daripada mencegah terjadinya infeksi. (Mom& Kiddie//nsa)

Bisa Dengar Tidak, Ya?



Penting lho, deteksi dini gangguan pendengaran pada bayi baru lahir. Simak caranya.

Tahukah Anda, dari 1000 bayi baru lahir, 1-3 bayi mengalami derajat pendengaran yang rendah? Nah, tes pendengaran mampu mendeteksi kekurangan tersebut sejak dini.

Sarana belajar

Skrining untuk mengetahui apakah bayi bisa mendengar atau tidak, penting dilakukan demi optimalnya proses belajar bayi. Tidak seperti indera penglihatannya yang masih samar, indera pendengaran bayi sudah berfungsi baik sejak lahir.

Mendengar adalah salah satu sarana bagi bayi untuk belajar, selain melihat, meraba, dan sebagainya. Dengan mendengar, si kecil tahu kalau ibunya mengajak bicara. Itu sebabnya, kalau salah satu “alat” yang akan dipakai untuk menyerap pelajaran itu terganggu, mau tak mau proses belajarnya pun bisa terganggu.

Kalau dari hasil skrining menunjukkan pendengaran si kecil normal, tentu itu yang Anda dan pasangan harapkan. Tapi, kalau ternyata ada gangguan pendengaran, maka upaya penanganan hendaknya dilakukan sejak dini.

Gangguan pendengaran si kecil sebaiknya memang diatasi setelah tahu penyebabnya. Namun, sementara ditelusuri penyebabnya, orang tua bisa mencoba melatih bayi berkomunikasi. Dengan begitu, diharapkan bayi-bayi yang berpendengaran kurang bisa diatasi, sehingga tumbuh kembangnya pun jadi optimal. Banyak bukti, bayi-bayi yang mengalami gangguan pendengaran namun ditangani sejak dini, ternyata mengalami perkembangan berbicara dan belajar dengan baik.

Tes bertahap

Skrining untuk pendengaran bayi dapat dilakukan pada hari pertama usianya. Di beberapa rumah sakit, tes pendengaran semacam ini sudah dilakukan sebelum bayi dibawa pulang ke rumah.

Jika ditemukan adanya kemungkinan gangguan pendengaran, maka tes berikutnya akan dilakukan untuk mengetahui sejauh mana gangguan tersebut. Penanganannya akan disesuaikan dengan penyebab dan seberapa berat gangguan yang dialaminya.

Mungkin, Anda merasa bisa mengetes sendiri kemampuan mendengar si kecil. Misalnya, ketika ada suara keras, si kecil terkejut. Atau, ketika si kecil menoleh ke arah bunyi atau suara. Namun, pada kenyataannya banyak bayi yang mengalami gangguan pendengaran masih dapat mendengar beberapa macam suara. Hanya saja, mereka tidak bisa mendengar suara itu dengan baik. Padahal, kemampuan mendengar yang baik itu perlu untuk mengembangkan kemampuan berbahasanya.

Nah, alangkah sayangnya jika semua itu terlambat diketahui. Kita memang berpacu dengan waktu. Jika gangguan pendengaran memang ada dan ditemukan sedini mungkin, maka penanganannya pun bisa lebih cepat dan lebih baik.

Retno Wahab Supriyadi(ayahbunda)

Digigit Nyamuk



Pasti bayi Anda akan merasa tidak nyaman setelah digigit nyamuk. Hati-hati, jangan sampai salah menanganinya.

Kasihan benar bayi yang digigit nyamuk. Selain kulitnya gatal, tidurnya pun jadi terganggu. Bila ia akhirnya menangis, Anda pasti bakal repot menenangkannya.

Gunakan bedak, tapi...

Umumnya, gigitan nyamuk tidak akan mencederai si kecil. Kecuali, bila yang menggigit adalah nyamuk penyebar penyakit, seperti Aedes aegypti dan Anopheles . Kedua nyamuk itu menyebabkan demam berdarah dan malaria.

Untuk menyiasati gigitan nyamuk tidaklah susah. Segera beri bedak pada bekas gigitan yang memerah. Sebaiknya, gunakan bedak yang mengandung senyawa mentol. Bedak ini akan memberi efek dingin, yang dapat mengurangi rasa gatal.

Perlu diingat, jangan terlalu banyak menggunakan bedak mentol. Cukup ditaburi di kulit yang digigit nyamuk saja. Bila bekas gigitan nyamuk banyak, sebaiknya segera bawa si kecil ke dokter. Kalau perlu, dokter akan memberinya obat antiradang.

Mencegah selalu lebih baik

Cegah nyamuk bertandang ke rumah Anda dengan selalu menjaga dan memperhatikan kebersihan lingkungan rumah. Misalnya saja, dengan tidak membiarkan air tergenang, dan menutup rapat-rapat tempat penampungan air. Selain itu, lakukan juga:

• Pasang kelambu di atas boks bayi, atau menutup si kecil dengan penutup yang bentuknya mirip tudung saji yang sekelilingnya dilapisi kelambu.
• Selimuti tubuh si kecil. Bisa juga, kenakan baju berlengan panjang dan celana panjang.
• Ciptakan kamar tidur bayi yang bebas nyamuk dengan menggunakan:
• Obat anti nyamuk semprot (minimal satu jam sebelum bayi tidur).
• Obat anti nyamuk listrik (minimal 5 meter dari boks bayi).
• Pasang kawat anti nyamuk pada setiap ventilasi kamar maupun ruangan lainnya.

Setelah melakukan berbagai pencegahan, tetap pantau kondisi si kecil, karena bukan tak mungkin ada nyamuk yang “lolos” dari upaya Anda tersebut.

Hindari Ini!

• Lotion /krim anti nyamuk yang dioleskan pada tubuh bayi. Karena, bahan-bahan yang terkandung di dalamnya dapat mengiritasi kulit bayi yang masih sensitif. Akibatnya, kulit si kecil jadi kering dan terasa perih.
• Minyak telon, minyak kayu putih, minyak tawon atau minyak jenis lain . Minyak tersebut umumnya memberikan efek hangat yang mungkin akan membuat si kecil malah semakin tidak nyaman.
• Obat nyamuk bakar . Selain menimbulkan risiko kebakaran, asapnya juga dapat mengganggu pernapasan.

Dewi Handajani